Seseorang yang mencintai kebersihan akan selalu menjaga kebersihan
badan, pakaian dan tempat tinggalnya. Hidup bersih akan berbuah pada
keindahan dan kenyamanan. Setiap kali ia melihat debu atau kotoran yang
menempel pada pakaiannya, dengan segera kotoran itu akan ia bersihkan.
Apalagi bila ia suka memakai pakaian yang putih, ia akan selalu
berhati-hati dan tidak sembarangan meletakkan pakaian putih tersebut.
Sebaliknya orang yang tidak suka hidup bersih, maka kebersihan badan,
pakaian dan tempat tinggalnya tidak menjadi perhatiannya. Baik karena
jiwanya yang tidak terdidik hidup bersih atau ia malas untuk
membersihkannya. Sehingga ketika ada debu atau kotoran yang menempel
pada pakaian, tidak cepat ia bersihkan, bahkan ia biarkan begitu saja,
dan pakaian tersebut tetap ia pakai. Lalu setelah beberapa lama, ketika
pakaian itu sudah terlihat sangat kotor, baru tergerak hatinya untuk
membersihkannya.
Debu atau kotoran yang telah lama lengket pada pakaian tentu tidak
bisa sekali cuci akan bersih, apalagi bila kotoran itu sudah kuat
melekat pada pakaian. Ianya perlu direndam agak beberapa lama, tidak
cukup hanya dikucek dengan tangan tapi perlu pada bros pakaian, agar
kotoran yang menempel itu bisa dihilangkan. Tapi, kalau dibersihkan
asal-asalan, kotoran akan tetap lengket dan lama kelamaan akan sulit
dihilangkan. Begitulah kira-kira kondisi hati kita.
Pakaian putih diumpamakan seperti hati, sedangkan debu dan kotoran adalah umpama dosa dan maksiat.
Manusia tidak ada yang lepas dari salah dan dosa, dan sebaik-baik
orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang selalu bertobat,
sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits.
Orang yang selalu menjaga kebersihan hatinya, ketika ia khilaf,
salah, dan berbuat dosa, kemudian ia tersadar, ia akan cepat dan segera
kembali pada Allah dengan memperbanyak istighfar, taubat dan berbuat
amal kebaikan. Sehingga dengan demikian kotoran dosa yang telah menempel
di hatinya hilang dengan istighfar dan taubatnya tersebut.
Sedangkan orang yang lalai, cenderung menunda dan mengabaikan untuk
membersihkan kotoran dosa yang menempel di hatinya. Ia tidak bersegera
untuk kembali pada Allah. Lama kelamaan bintikan dosa dan maksiat
semakin banyak menempel di dinding hatinya, sehingga tanpa ia sadari
hatinya telah hitam oleh dosa dan maksiat.
Dalam sebuah haditsnya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam
bersabda, "Ada berbagai cobaan yang ditampilkan kepada hati seperti
sepotong tikar yang disusun dari jerami, sehelai demi sehelai. Setiap
kali ia condong pada dosa, maka hati itu diwarnai satu titik hitam.
Tetapi, jika ia menolaknya, maka hati itu diwarnai satu titik putih,
sampai terbentuklah dua macam hati, yaitu hati yang berwarna hitam
pekat, hati macam ini tidak pernah mengenal kebaikan sedikitpun. Dan
hati yang berwarna putih cemerlang, hati macam ini tidak condong pada
keburukan sedikitpun selama langit dan bumi masih ada."
Pada saat hati dalam keadaan dilumuri dosa dan maksiat, maka si
pemilik hati perlu kesungguhan untuk membersihkan hatinya. Apabila ia
membersihkan hatinya dengan asal-asalan hasilnya juga akan asal-asalan.
Umpama pakaian, kalau pertama kali terkena debu dan kotoran, ia cepat
membersihkannya, maka cukup dengan air, debu atau kotoran tersebut akan
bisa dihilangkan. Namun bila ia telah lama lengket dan sulit dihilangkan
tentu perlu waktu, kesabaran, dan kesungguhan untuk membersihkannya.
Pakaian yang telah sangat kotor tersebut perlu pada ember/wadah untuk
merendamnya dengan sabun dan air, kemudian dicuci dengan bros. Tidak
hanya sekali cuci kotoran akan bisa hilang semuanya, tapi perlu dicuci
berulang kali agar pakaian bersih seperti semula.
Ember disini adalah sebuah tempat atau wadah yang penulis umpamakan
dengan mesjid, majlis zikir, majlis iman dan ilmu. Sedangkan sabun dan
airnya adalah umpama Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah. Sedangkan
bros adalah umpama semangat dan kesungguhan serta tekad kita untuk
membersihkan hati yang telah kotor.
Artinya adalah, ketika hati kita telah begitu kotor karena dosa dan
maksiat, maka upaya yang mesti kita lakukan agar ia kembali fitri
seperti semula adalah dengan selalu membawanya ke mesjid, majlis-majlis
ilmu, majlis-majlis iman dan majlis-majlis zikir yang disana kita akan
mendengarkan ayat-ayat Allah dilantunkan, hadits-hadits Rasulullah
dibacakan dan nasehat-nasehat kebenaran serta kebaikan disampaikan.
Dengan selalu konsisten menjaga amalan ini, insya Allah hati yang selama
ini telah kotor karena debu-debu dosa dan kemaksiatan dapat kita
bersihkan.
Seperti halnya pakaian yang sudah sangat kotor yang dengan sekali
cuci tidak akan bersih, begitu juga halnya dengan hati. Tidak cukup
dengan hanya sekali datang ke tempat tersebut, kita sudah berangan hati
akan bersih seperti sedia kala. Tapi perlu waktu, perlu kesabaran, perlu
kesungguhan dan perlu do`a yang tidak henti dipanjatkan pada Allah agar
ia memudahkan langkah kita menuju penyucian hati.

Jumat, Agustus 26, 2011
Bhidyt

















0 komentar:
Poskan Komentar